mediahaji.com :: Ketentuan | Info Iklan | Redaksi

Khazanah » Sejarah:

Haji, Ibadah Sejarah dan Latihan Kematian

di unggah oleh farid : 2 bulan yang lalu

Haji, Ibadah Sejarah dan Latihan Kematian

MediaHaji.Com, Jakarta. Cendekiawan muslim asal Iran, Dr. Ali Shariati, menyebutkan prosesi ritual dalam ibadah haji, adalah gambaran paling nyata dan lengkap menuju kematian yang diberikan oleh Allah SWT. kepada sebagian ummat-Nya. Oleh sebab itu, seorang yang menunaikan ibadah haji berarti memperoleh karunia langsung dari AllahSWT. mengikuti latihan massal menuju kematian sebelum mengalami kematian yang sesungguhnya.

Untuk itulah calon jemaah haji, amat penting melakukan serangkaian persiapan fisik dan nonfisik. Begitu hari keberangkatan tiba, para calon haji disunnahkan segera berwasiat kepada keluarga yang ditinggalkan, menyebutkan tanggung-jawab dan menjelaskan tanggungan yang akan ditinggalkan termasuk utang piutang. Ini karena calon haji akan berangkat menuju gerbang kematian. Kalau berhasil kembali ke tanah air, diberi panjang umur dengan misi khusus melanjutkan penggalan dan tenggat terakhir pengabdian kepada Allah SWT. telah menyiapkan oleh-oleh khusus mudik ke kampung halaman, berupa kewajiban menggambarkan hasil pertemuannya dengan Sang Maha Pencipta, kepada keluarga, handai taulan, tetangga dan rekan sejawat.

Berlandaskan kesadarannya, seorang pelaku haji telah berbaiah kepada Allah SWT. untuk menjadi duta Tanah Haram dengan tugas menebar aroma surga bagi lingkungannya. Kalau misi ini dapat dia lakukan dengan baik, maka dia berhak mendapatkan Haji Mabrur, Haji dengan segala kebaikan yang ganjarannya surga. Itulah janji Allah SWT. Tetapi jika misii ini tak tertunaikan, selain telah membuang-buang uang uang yang tidak sedikit ia juga melakukan pengkhianatan atas janji dengan Tuhan Yang Maha Perkasa selama di Tanah-Haram.

Sebuah pentangan ruhaniah kepada Dzat yang bisa mencabut nyawanya, mencerai-beraikan keluarganya, menarik rejekinya, serta melemparkannya ke kenistaan dunia dan akhirat. Kepadanya dihadiahkan sebuah Haji Mardud (Haji yang Tertolak). Naudzubillahi min dzalik!. Tetapi kalau tidak kembali lagi ke Tanah Air, maka itu maka artinya dia telah berhasil menjadi tamu abadi Allah SWT. Untuk itu dia berhak mengambil sepetak Tanah-Haram di lingkungan Rumah Allah, untuk tinggal dikuburkan sambil menunggu sangkala akhir jaman.

Dia telah menjadi syahid dan tertunaikan tanggung-jawabnya karena sebelum berangkat haji, telah berwasiat dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT. Di mata Allah SWT., mereka tidak mati tetapi hidup dalam dunia yang lain. Dunia yang dianggap kematian bagi yang tinggal di dunia tetapi sebuah kehidupan haqiqi bagi mereka yang lebih meninggalkan dunia materi. Dia telah dipilih secara khusus menuju kekuasaan Allah SWT. Oleh sebab itulah, meski ini tidak dibenarkan, banyak jemaah haji yang malah menginginkan dijemput maut saat ibadah haji karena pesona kematian jalan syahid dan bayangan aroma surga.
Apakah kematian seperti ini yang banyak diinginkan jemaah haji Indonesia? Setidaknya jika melihat kenyatan bahwa banyak jemaah Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci, ketika usia menjelang senja. Tak aneh pula jika sejak kelompok terbang pertama tiba di Tanah Haram, langsung tersiar kabar duka oleh meninggalnya jemaah haji. Begitu kaki menjejak bandara, maka perasaan aneh dan ajaib langsung terasa. Terbayang berjuta-juta malaikat sudah menunggu menjemput jemaah menuju Tanah Haram. Bacaan Talbiyah langsung bergema di dalam hati, menembus relung jiwa, mengalir ke sekujur tubuh.

Labbaika Allahumma Labbaika, Labbaika La Syarika Laka Labbaika, Innal Hamda Wan Ni'mata laka wal Muku, La Syarika laka.

Lantunan untaian kata-kata magis ini terus bergema sampai jemaah terlelap di dalam badan pesawat. Lelap dalam bisikan talbiyah. Harapan akan segera bertemu, berdalog, bercengkerama dengan Allah SWT. Aroma surga seperti tak pernah berhenti berhembus di dalam diri sampai pesawat mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Saudi Arabia. Dari sini jarak menuju rumah Allah SWT. kian dekat. Para jemaah sudah mengenakan dua lembar kain kafan.

Tak tertinggal sedikit pun benang melekat di tubuh, tak ada lagi perhiasan, tak ada lagi wewangian, tak ada lagi dirinya sendiri. Mereka telah menjadi makhluk yang berbeda dari sebelumnya yang bertamu ke rumah Allah SWT. dengan berletih-letih dan seadanya. Kepada Malaikat, Allah SWT., amat membanggakan ummat-Nya yang datang bertamu. Mereka seperti dihempas gaya tarik menarik ke dalam pancaran Ka'bah.

Sebuah daya magis yang menyedot jutaan hati manusia menyeruak dari Ka'bah. Seluruh ummat manusia secara bersama-sama, bersatu-padu, serentak mengitari Baitullah. Di lingkungan Baitullah ini, jangan pernah ada niat selain mengagungkan Asma-Nya. Jangan pernah menentang arus manusia yang sedang tawaf karena akan terlempar dari pusaran kekuatan Allah SWT.

Ikutilah arus menausia yang berlapis-lapis. Karena pada lapisan pertama, jemaah akan keluar dan otomatis tergantikan posisinya oleh lapisan berikutnya. Prosedur lapisan ruhaniyah ini akan mengantarkan setiap jemaah untuk dapat mencapai beragam sukses. Ia akan dengan mudah mencapai Maqam Ibrahim, pada lapisan selanjutanya akan memasuki Hijir Ismail dan terakhir ia akan mencapai Multazam, sebuah tempat mustajabah yang terletak antara pintu Ka'bah dengan Hajar Aswad. Kecuali Masjidil Haram, maka Maqam Ibrahim, Hijir Ismail dan Multazam, merupakan trilogi tempat paling didambakan muslim.

Di tempat inilah, segala doa disampaikan, semua puja dikumandangkan, lautan air mata ditumpahkan,setumpuk dosa diakui, dan pengecilan diri disadari serta pemusatan kepada segala upaya peng Agungan Allah SWT. dilakukan. Wallahu A'lamu Bishshowaab. (Penuturan K.H.Hasyim Muzadi)