Khazanah » Sejarah:
Hikmah Berkumpulnya Hujjaj
di unggah oleh
iyank4
: 2 bulan yang lalu

Sesungguhnya, termasuk di antara hikmah-hikmah haji yang selayaknya menjadi lampu penerang di dalam hati dan motivator dalam kehidupan setelah haji adalah bahwa haji memberikan gambaran yang mengagumkan tentang sebuah persatuan yang wajib atas seluruh kaum muslimin untuk segera merealisasikannya. Disanalah mereka berkumpul dari setiap penjuru dunia, kulit putih dan hitam, dari belahan timur dan barat, bangsa Arab dan 'Ajam (non Arab), yang kaya dan yang miskin, raja dan rakyat, semua berkumpul dan bersatu.
Mereka tidak terkumpul kecuali karena ikatan agama dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengenakan satu (model) bajum memanggila dengan panggilan yang sama serta berharap kepada Rabb yang Maha Tunggal.
Mereka telah berkorban dengan diri mereka sendiri. Mereka hadapkan diri mereka pada bahaya perjalanan. Mereka korbankan harta-harta mereka, mereka infaqkan harta itu dengan jiwa yang penuh ridha. Mereka korbankan waktu mereka, mereka lalui masa itu selama berhari-hari, dan bahkan beerbulan-bulan. Mereka korbankan kedekatan mereka dengan keluarga, rumah dan pasar-pasar dan perusahan mereka. Mereka tinggalkan itu semua di jalan Allah.
Mereka korbankan kebaikan mereka yang dulu mereka jaga, lalu mereka lepaskan seluruh perhiasan, kemudian tinggal di sana pada hari-hari yang telah ditentukan dengan pakaian ihram sederhana yang tidak ada kebanggana padanya antara satu orang dengan lainnya, tidak ada padanya pendorong untuk ujub, riya, dan sombong.
Itu adalah pendidikan jiwa untuk mencurahkan segala sesuatu demi mendapatkan keridhaan Sang Pencipta dan kecintaan-Nya. Itu tidak hanya pada musim haji saja, namun juga pada keseluruhan usia. Pengorbanan adalah sebuah pelajaran mendalam dalam ibadah ini. Tidak mungkin ada sebuah ibadah tanpa pengorbanan.
Di dalam haji, sekalipun ada kemudahan, maka pasti di sana terdapat kesulitan. Dengan nyalah pahala jamaah haji jadi besar. Safar (perjalanan) adalah satu keping dari adzab (kesengsaraan). Dalam safar, jamaah haji terhalang dari kesehariannya yang biasa dia lakukan di dalam rumahnya, kendaraan, tempat tidur, makanan, minuman, tempat duduk. Ia jauh dari keluarga, para kekasih, tanah air dan maslahat duniawi. Semuanya telah berubah. Pastilah itu semua membutuhkan bagian dari kesabaran dan ketabahan.
Disinilah pentingnya seseorang jamaah haji untuk meresapi pelajaran ini dengan baik. Betapa banyak kita membutuhkan pelajaran ini?. Dunia diciptakan penuh dengan kekurangan-kekurangan, tertawaan, dan tangisan, persatuan dan perpecahan, kesempitan dan kelapangan, kesenangan dan kesengsaraan. Dunia adalah negeri tipuan bagi orang yang tertipu dengannya. Dunia adalah negeri pengambilan pelajaran bagi mereka yang menjadikannya sebagai pelajaran. Akan tetapi jika kemelut menguasai, dan berbagai kesempitanpun mengikuti di belakangnya, maka tidak ada jalan keluar kecuali dengan iman kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, serta baik dalam kesabaran, itulah cahaya yang bisa melindungi dari kehancuran, serta perisai yang menjaga diri dari keterputus-asaan.
"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS. Yusuf ; 87).
Siapakan diantara manusia yang tidak pernah merasakan rasa sakit? Siapakan di antara mereka yang selamat dari musibah dan kesusahan? Siapakan di antara mereka yang kehidupannya sempurna dan telah terwujud seluruh angan-angannya?.
Oleh karena itu seorang muslim membutuhkan banyak bekal sabar dan harapan mencari pahala. Bekal inilah yabng akan menahan derita kehidupan. Allah telah mengajari kita akhlaq ini pada 90 tempat di dalam al-Qur'an yang mulia. Diantaranya adalah kabar gembira bagi orang yang bersabar terhadap apa yang mereka perbuat :
"Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. An-Nahl ; 95).
Itul adalah pahala yang tidak terbatas, seperti pahala sejumlah amal taat yang lain, bahkan :
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" (QS. Az-Zumar : 10).
Di dalam hadits yang shahih, Nabi SAW. bersabda "Tidaklah seseorang itu diberi sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran" (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani).
Seorang mukmin yang yakin tidak akan kehilangan jernihnya aqidah dan cahaya keikmanan. Dia hanya kehilangan bagian dari keuntungan dunia. Adapun orang yang gelisah maka baginya adalah tabiat buruk yang akan melarikannya dari kesabaran, kemudian menjadikannya gagal dalam setiap ujian serta musibah yang dihadapkan padanya.
Sesungguhnya penunaian ibadah haji akan meninggalkan pengaruh besar pada diri seorang mukmin. Haji akan mengajari seorang muslim aturan, keabaran, ketawadhuaan, toleransi, perghaulan yang baik, kelembutan, serta 'muraqabatullahi' (perasaan senantiasa diawasi oleh Allah). Betapa agung dan sempurna pelatihan kepribadian dan akhlak ini. Pelatihan yang meliputi kekuatan ikhlas, kebaikan, serta kejernihan yang tersembunyi di dalam hati dan sanubari.
Kemudian, sesungguhnya perasaan seorang muslim bahwa ibadah hajinya diteri di sisi Allah SWT., akan menjadikannya merasakan kebersihan hati, kemudian jiwanya akan mampu menahan tanggung-jawab besar untuk melawan hawa nafsunya agar tidak kembali kepada dosa-dosa lagi hingga tidak mengotori kejernihan tersebut, karunia yang telah Allah anugerahkan kepadanya.
Oleh Dr. Khalidi al-Hally/Dwiyono T