MediaHaji.com

Khazanah » Sosok:

Kiai Cholil (1235 – 1343 H)

di unggah oleh iyank4: 1 tahun, 8 bulan yang lalu


“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” kata KH. Cholil sambil menyerahkan sebuha tongkat. Sepotong kalimat pedek ini memiliki makna mendalam. Kalimat pendek yang diucapkan itu, agaknya ikut memperlancar, bahkan menentukan, lahirnya sebuah organisasi yang kemudian dinamakan Nahdlatul Ulama. *** Pernah mendengar, dari sebuah tongkat dan seuntai tasbih lahir ”bayi” yang di kemudian hari menjadi ”raksasa”? Bagi orang awam, hal itu tampak sebagai sesuatu yang mustahil. Tapi tidak bagi Kiai Cholil. Siapa Kiai Cholil? Bagi warga Nahdlatul Ulama, nama ini tentu tak asing. Dialah yang ikut membidani kelahiran ”bayi” NU, yang kemudian menjadi ”raksasa”. Waktu itu 1924. Di Surabaya ada sebuah kelompok diskusi yang bernama Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran), yang didirikan oleh seorang kiai muda yang cukup ternama waktu itu, Kiai Abdul Wahab Chasbullah. Kelompok ini lahir dari kepedulian para ulama terhadap berbagai gejolak dan tantangan yang dihadapi umat Islam kala itu, baik mengenai praktik-praktik keagamaan maupun bidang pendidikan dan politik. Pada perkembangannya kemudian, peserta kelompok diskusi ingin mendirikan sebuah jam’iyah (organisasi) yang lingkupnya lebih besar ketimbang hanya sebuah kelompok diskusi. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab selalu menyosialisasi ide untuk mendirikan jam’iyah. Tampaknya tidak begitu ada persoalan, kecuali restu dari Kiai Hasyim Asy’ari, seorang kiai yang paling berpengaruh saat itu. Kiai Wahab sudah menyampaikan keinginan untuk mendirikan jam’iyah kepada Kiai Hasyim, gurunya. Namun Kiai Hasyim tidak serta merta menerima dan merestui ide tersebut. Berbilang hari dan bulan Kiai Hasyim melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk Allah. Namun petunjuk itu tak kunjung datang. Sementara itu Kiai Cholil, guru Kiai Hasyim yang juga guru Kiai Wahab, diam-diam mengamati kondisi itu. Ternyata beliau tanggap. Seorang santri yang terhitung masih cucunya sendiri, As’ad, dipanggil untuk menghadap. ”Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” kata Kiai Cholil sambil menyerahkan sebuah tongkat. ”Baik Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat. ”Bacakanlah kepada Kiai Hasyim ayat-ayat ini: Wama tilka biyaminika ya Musa. Qala hiya ’ashaya atawakka’u ’alaiha wa ahusysyu biha ’ala ghanami waliya fiha ma’aribu ukhra. Qala alqiha ya Musa. Faalqaha faidza hiya hayyatun tas’a. Qala khudzha wala takhaf sanu’iduha siratahal ula. Wadhmum yadaka ila janahika takhruj baidha’a min ghairi su’in ayatan ukhra. Linuriyaka min ayatinal kubra. (Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa? Musa berkata, ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul [daun] dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya. Allah berfirman, ”lemparkanlah itu, hai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, peganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa catat, sebagai mukjizat yang lain [pula], untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar),” pesan Kiai Cholil. As’ad segera pergi ke Tebuireng, kediaman Kiai Hasyim. Di situlah berdiri pesantren yang diasuh Kiai Hasyim. Mendengar ada utusan Kiai Cholil datang, Kiai Hasyim menduga pasti ada sesuatu. Benar juga. ”Kiai, saya diutus Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini kepada Kiai,” kata As’ad, pemuda berusia sekitar 27 tahun itu, sambil mengulurkan sebuah tongkat. Kiai Hasyim menerimanya dengan penuh perasaan. ”Ada lagi yang harus kau sampaikan?” tanya Kiai Hasyim. ”Ada, Kiai,” jawab As’ad. Kemudian ia membacakan ayat yang disampaikan Kiai Cholil. Mendengar ayat yang dibacakan As’ad, hati Kiai Hasyim tergetar. Matanya menerawang, terbayang wajah Kiai Cholil yang tua dan bijak. Kiai Hasyim menangkap isyarat, gurunya tidak keberatan bila dia dan teman-temannya mendirikan jam’iyah. Sejak itu, keinginan untuk mendirikan jam’iyah semakin dimatangkan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun telah berlalu. Namun jam’iyah yang dididamkan itu tak kunjung lahir. Sampai pada suatu hari, pemuda As’ad muncul lagi. ”Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyampaikan tasbih ini,” kata As’ad. ”Kiai juga diminta untuk mengamalkan Ya Jabbar-Ya Qahhar (lafal dari Asma’ul Husna) setiap waktu,” tambah As’ad. Sekali lagi, pesan gurunya itu diterima Hasyim dengan penuh perasaan. Kini hatinya semakin mantap untuk mendirikan jam’iyah. Namun, sampai Kiai Cholil berpulang ke rahmatullah tidak lama setelah itu, tepatnya tanggal 29 Ramadhan 1343 H, keinginan untuk mendirikan jam’iyah belum terwujud dan baru satu tahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 16 Rajab 1344 H, jam’iyah yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU) dan jam’iyah ini (NU) sampai saat ini menjadi organisasi terbesar di Indonesia. Karena Kiai Cholil adalah seorang yang alim yang diyakini sebagai salah satu waliyullah, maka tongkat dan tasbih yang diterima Kiai Hasyim dari Kiai Cholil adalah sebuah isyarat restu untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Riwayat Hidup Kiai Cholil Kiai Cholil lahir pada tanggal 11 Jumadi al-Tsaniyah 1235 H di Kampung Senenan, Desa kemayoran, Kec. Bangkalan, Kab. Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura. Ayahnya bernama KH. Abdul Latif seorang kiai di kampung tersebut. KH. Abdul Latif sangat berharap anaknya kelak dapat menjadi pemimpin umat seperti nenek moyangnya yang masih keturunan Sunan Gunung Jati, waliyullah, pemimpin dan pejuang Islam yang terkenal. Didikan yang ketat dari orangtuanya serta bakat yang istimewa dan kehausannya akan ilmu, Cholil kecil telah menghafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu nahwu). Kemudian KH. Latief mengirim anaknya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu. Sekitar tahun 1850-an, Cholil muda menimba ilmu dari Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Kemudian nyantri di Pesantren Cangaan, Bangil, pasuruan. Dari sini pindah lagi ke Pesantren Keboncandi, Pasuruan. Selama di Keboncandi, Cholil juga belajar pada Kiai Nur Hasan yang masih familinya di Sidogiri, yang berjarak sekitar 7 kilometer dilakoni setiap hari. Selama perjalanan Keboncandi-Sidogiri ia membaca Surah Yaasin sampai khatam berkali-kali. Selama di Keboncandi ia memburuh batik dan dari hasil memburuh batik inilah yang ia gunakan untuk biaya hidup dan belajar selama di Keboncandi. Cholil memang seorang yang mandiri, meskipun orangtuanya memiliki kecukupan harta karena memiliki pertanian dan perkebunan yang cukup luas, tetapi ia tidak ingin merepotkan orangtuanya. Hal ini juga terlihat tatkala ia ingin belajar di Mekah yang merupakan cita-cita semua santri. Untuk itu, ia nyantri di sebuah pesantren di Banyuwangi. Pengasuh pesantren tersebut dikenal memiliki kebun kelapa yang cukup luas. Selama nyantri di pesantren tersebut, Cholil juga menjadi ”buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohon ia diupah sebesar 2,5 sen. Uang yang ia peroleh ini ditabung. Untuk makan sehari-hari tidak persoalan bagi Cholil karena ia biasa hidup prihatin. Seringkali ia menjadi juru masak teman-temannya, disitulah ia bisa makan gratis. Tahun 1859, saat berusia 24 tahun, Cholil memutuskan untuk berangkat ke Mekah. Sebelum berangkat ia dinikahkan dengan Nyai Asyik, putri Lodra Putih. Ongkos pelayaran berasal dari uang yang ditabungnya selama ini. Selama di Mekah ia belajar di berbagai ulama dari berbagai mazhab. Namun kecenderungannya terhadap mazhab Syafi’i begitu besar, sehingga ia lebih banyak belajar kepada para syaikh bermazhab Syafi’i. Kebiasaan hidup prihatin diteruskan selama belajar di Mekah. Sepengetahuan teman-temannya ia tidak pernah mendapat kiriman dari tanah air. Kepiawaiannya menulis kaligrafi dan menulis risalah keagamaan dijadikannya sebagai penghasilan selama tinggal di Mekah. Kerap kali ia memakan kulit buah semangka yang membuat heran teman-teman seangkatannya, seperti Nawawi Banten, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan Syaikh Muhammad Yasin Padang. Sepulangnya dari Mekah (tidak ada catatan resmi kapan ia pulang dari Mekah) ia mendirikan pesantren di Desa Cengkebuan. Dalam waktu yang singkat banyak dari desa-desa disekitarnya menjadi santri di pesantren tersebut. Namun setelah putrinya, Siti Khatimah, menikah dengan keponakannya sendiri, pesantren tersebut ia serahkan kepada menantunya. Kiai Cholil sendiri mendirikan pesantren di Desa Kademangan, hampir di pusat kota sekitar 200 meter sebelah barat alun-alun kota kabupaten Bangkalan. Di tempat yang baru, juga hanya dengan waktu yang singkat memperoleh banyak santri yang tidak hanya dari desa sekitar, tetapi juga dari Pulau Jawa. Santri pertama dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari yang kelak menjadi salah satu ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebu Ireng Jombang. Dengan KH. Hasyim Asy’ari ini, Kiai Cholil sering nyantri pasaran (selama bulan Ramadhan). Ini menunjukkan bahwa Kiai Cholil mengakui derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim. Kiai Cholil saat itu hidup di tengah penjajahan Belanda. Dengan caranya sendiri melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Cara yang utama adalah dengan pendidikan. Melalui jalur ini Kiai Cholil mempersiapkan pemimpin yang berilmu, punya wawasan, tangguh, dan memiliki integritas tinggi, baik agama maupun bangsa. Beliau banyak berada di belakang layar untuk melawan penjajah. Kiai Cholil sering memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada para pejuang. Kiai Cholil juga tak keberatan pesantrennya dujadikan tempat persembunyian para pejuang. Pernah suatu ketika, ada beberapa pejuang yang bersembunyi di pesantren beliau. Namun, penjajah yang membawa tentara yang cukup banyak, setelah mengobok-obok seluruh isi pesantren tidak mendapatkan apa-apa. Tentara penjajah marah dan menahan kiai Cholil. Ketika Kiai Cholil dijebloskan dalam penjara, pintu tahanan semuanya rusak, sehingga harus dijaga siang dan malam agar tahanan yang lain tidak kabur. Setelah itu berduyun-duyun masyarakat mengantar makanan kepada Kiai Cholil, ini membuat penjajah bingung. Akhirnya penjajah melarang masyarakat untuk mengunjungi Kiai Cholil. Namun, larangan itu tidak menyelesaikan masalah. Justru masyarakat berjejalan di sekitar rumah tahanan, bahkan banyak pula yang meminta ikut ditahan bersama dengan Kiai Cholil. Daripada semakin pusing dengan hal-hal yang tak dimengerti itu, penjajah membebaskan Kiai Cholil. Kiai Cholil memang menjadi fenomena tersendiri. Beliau seorang yang alim dalam ilmu nahwu, tarekat dan fiqh. Ia juga hafal Al-Quran dan menguasai segala ilmu Al-Quran, termasuk Qira’ah Sab’ah (tujuh macam seni baca Al-Quran). Masyarakat terpukau bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena kemampuannya dalam hal-hal yang tidak kasat mata (tidak dapat diindra). Wajar bila kemudian sebagian besar umat Islam meyakini beliau adalah waliyullah. Kiai Chlil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H dalam usia 91 tahun (menurut hitungan Miladiyah) karena usia lanjut. Jejak dan langkahnya kini tetap menjadi monumen yang mengalir hidup melalui perjuangan penerus dan pengikutnya. Di Indonesia banyak pesantren berdiri yang terus berkhidmah dalam hidup agama dan bangsa. Sebagian besar pengasuh pesantren mempunyai sanad (persambungan) dengan Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, atau kiai-kiai besar lainnya di Jawa. Padahal jelas, mereka semua adalah murid Kiai Cholil. Artinya, hampir semua kiai yang ada sekarang ini mempunyai sanad sampai Kiai Cholil. Muara yang penuh misteri. [Zar/rul] Disarikan dari buku Karisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU