Haji » Ibadah Haji:
Makkah dan Ibadah Haji
di unggah oleh
iyank4
: 3 bulan, 2 minggu yang lalu

Kenapa Makkah? Dipilihnya kota tersebut bukan karena kota itu memiliki populasi terbesar umat Islam, dan memang tidak begitu pula pada kenyataannya, tapi kota tua yang telah ada sejak zaman Nabi Adam itu menyimpan banyak sejarah perjalanan dan penyebaran agama Allah SWT di dunia.
Setelah berpuluh-puluh tahun berpisah, Nabi Adam dan Hawa dipertemukan Allah di Jabal Rahmah, Makkah. Nabi Muhammad SAW. mendapatkan wahyu pertama sekaligus pengangkatan dirinya sebagai Rasul, juga di kota berpenghasilan minyak terbesar dunia.
Lebih dari itu, di Makkah, kota yang memiliki empat musim itu, terdapat rumah Allah SWT, yang menjadi satu titik (kiblat) bagi umat Islam untuk menghadap-Nya. Sangat logis kiranya Allah SWT mewajibkan umat-Nya, yang mampu baik materi maupun immateri, untuk menziarahi Baitullah.
Lokasinya yang cukup jauh bukan kendala bagi umat Islam untuk mengunjunginya, terlebih di zaman modern seperti sekarang ini. Terbukti dengan terus meningkatnya jumlah jama’ah haji dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan jumlah daftar tunggu yang tak pernah mengalami penurunan, sebaliknya kian bertambah.
Di Indonesia sendiri, ada sekitar 900 ribu calon jama’ah haji yang sudah mengantre untuk bisa melaksanakan haji. Jika dirata-rata, seandainya mendaftarkan sekarang, baru lima tahun lagi berangkat ke Tanah Suci.Begitu antusiasnya umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji. Sebesar apa pun biayanya, tak jadi masalah.
Undangan-Nya begitu kuat menghunjam hati umat.Tak sedikit yang mengorbankan segalanya untuk masuk menjadi bagian yang mendapatkan quota. Yang telah menunaikannya, pun banyak yang ketagihan untuk kembali melakukannya. Seperti ada kerinduan yang menggebu mengunjungi Rumah Allah SWT.
Siapa yang tak ingin menunaikan ibadah haji? Konon, ibadah, yang katanya paling “mahal” itu, bagai magnet yang amat kuat bagi umat untuk berlomba-lomba mengerjakannya. Ibadah haji menjadi satu ibadah yang dengannya akan tampak keagungan Sang Pencipta, yakni bagi mereka yang mau merenungkan setiap makna yang terkandung di dalam ritual-ritual haji itu sendiri.
Sejatinya, melaksanakan ibadah haji haruslah dengan niat ikhlas semata karena-Nya, bukan karena ingin pamer kepada orang lain, atau untuk menunjukkan status sosial kepada masyarakat sekitar. Ibadah yang maksimal adalah tujuan utama. Inilah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sayang jika keberadaan di Tanah Suci tidak dimanfaatkan untuk beribadah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Begitu juga setiba di tanah air. Berbagai macam kegiatan positif, baik hablun minallah maupun hablun minan-nas, selalu didawamkan dalam kehidupan sehari-hari dengan hati yang bersih sebagai hamba-Nya. Seperti itulah kiranya umat Islam dari zaman Nabi Adam hingga generasi pamungkas.
Selamat menunaikan ibadah haji. Semoga menjadi haji mabrur. Rasulullah SAW bersabda, “Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim).