Khazanah » Sosok:
Prof Dr KH Ibrahim Hosen
Purek I Institut Ilmu Al-Qur’an – Jakarta Ibrahim Hosen lahir dikota Bengkulu, Sumatera pada tanggal 1 Januari 1916. Beliau adalah keturunan para Sultan dan Ulama Bugis yang berada di Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah KH Husen bin Abdusy Syakur ulama besar kota Bengkulu, Ibunya adalah Zawiyah dari keturunan kerajaan Bengkulu. Dari latar belakang yang sudah diketahui, jelaslah bahwa beliau menurunkan dua sifat penting yaitu kepemimpinan dan kafasihan dalam ilmu agama, beliau merupakan salah satu ulama besar yang menerangi Indonesia bagaikan sinar rembulan yang terang benderang dimuka bumi ini. Ibrahim Hosen dibesarkan dalam keluarga yang serba ada, beliau dicukupi dengan ilmu agama sejak kecil. Beliau belajar Al-Qur’an dan ilmu agama dari ayahnya dan para ulama di Bengkulu. Sejak kecil kecerdasan sudah merupakan ciri khasnya, hal ini yang menjadikan beliau sebagai murid yang teramat disayangi oleh para gurunya. Sewaktu ayahnya pindah ke Singapura beliau memulai sekolahnya di sekolah As-Saqqaf, Singapura kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di pelbagai pesantren di Jawa. Di antaranya Banten yang kala itu di pimpin oleh KH. Tubagus Shaleh Ma’mun, seorang Qari’ ternama dan ahli agama. Kemudian beliau melanjutkan ke Cirebon Timur dan berguru kepada KH Abbas, salah satu murid KH Hasyim Asy‘ari di Jombang (Pendiri Nahdlatul Ulama). Kemudian beliau berpindah dan melanjutkan ke Solo berguru kepada Ust Husain As-Saqqaf mempelajari bahasa Arab dan Fiqih. Setelah menyelesaikan studinya beliau melanjutkan ke Sukabumi dan berguru kepada KH Sanusi, dimana beliau belajar Kitab al-Umm [karya Imam Syafi’i] dan ilmu Balaghah. Setelah menamatkan sekolahnya di berbagai pesantren di jawa, beliau melanjutkan ke Universitas al-Azhar – Kairo, Mesir jurusan Syari’ah dan meraih gelar S1 pada tahun 1960. Sewaktu beliau di Mesir beliau menggunakan kesempatan itu untuk berguru dan menggali ilmu agama sedalam-dalamnya, maka beliau berguru Nahwu-Sharaf kepada Prof. Dr Ahmad Kuhel dan berguru Ilmu Balaghah kepada Prof. Dr. Hassan Gad. Dan mendalami ilmu Ushul Fiqih kepada Prof.Dr. Abu Anwar Zuhair, Semoga Allah merahmati mereka semua. Ibrahim Hosen telah menggapai berbagai ilmu yang bermanfaat khususnya dalam bidang perbandingan mazhab [fiqih muqaran] sehingga dengan ilmu yang telah beliau garap, beliau sanggup dan berhasil mengistinbathkan beberapa hukum bagi masalah-masalah yang belum ada hukumnya. Diantara kasus-kasus yang berhasil beliau istinbathkan [mengeluarkan fatwa hukumnya] ialah : 1. Pemerintah adalah pandangan Islami 2. Wanita boleh /mubah menjadi pemimpin [presiden] 3. Seorang dokter mubah melihat aurat besar [kemaluan] pasiennya untuk kepentingan pemeriksaan dan pemasangan alat KB 4. Penentuan Hilal ‘Ied fitri dan ‘Idul adhha merupakan wewenang pemerintah [ulul amri] dan bukan merupakan wewenang suatu lembaga atau golongan Islam tertentu. Karena dalam penentuan tersebut pemerintah yang berkewajiban untuk menentukan dan masyarakat Islam wajib mengikuti ketentuan pemerintah dalam hal ini. Disamping itu, hal demikian menutup pintu perpecahan dan perselisihan antara golongan-golongan Islam. 5. Wanita boleh menjadi Jaksa 6. Tayamum boleh dilakukan dengan apapun yang thahir di muka bumi ini, karena kata “Sha’idan” yaitu segala sesuatu yang muncul dari muka bumi. 7. Wanita sah menjadi imam shalat yang berma’mumkan laki-laki, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu daud di sunannya bahwa Ummu waraqah mengimami shalat dan ma’mumnya ketika itu adalah anak laki-laki kecil dan pamannya. 8. Laba Bank adalah haram karena merupakan riba yang diharamkan Allah SWT 9. Pembaharuan dalam pengertian judi. Judi haram bukan karena zatnya [judinya itu sendiri] akan tetapi karena madharat dan efek buruknya. 10. Minuman yang dijadikan bahan dasar khamer dan bukan berasal dari anggur maka bila diminum tidak melebihi batasan yang memabukkan halal. 11. Khamer yang berbahan dasar anggur, alcohol dan itanol, sebenarnya adalah bahan yang suci dan bukanlah bahan yang najis, oleh karena itu boleh seseorang menggunakan wewangian yang mengandung alcohol ketika shalat. Hal demikian sesuai dengan pendapat Abu Hanifah akan tetapi bertentangan sengan pendapat Imam Syafi’i. Selama hidupnya beliau dikenal sebagai sosok pembaharu dan pemikir ulung, bersama KH Ahmad Dahlan, beliau membuka Perguruan Tingg Ilmu Al-Qur’an [khusus laki-laki] dan membangun bersama KH Sulaiman Affan Institut Ilmu Al-Qur’an [Khusus wanita] yang kemudian dikembangkan dan dilestarikan kemurniannya oleh ibu Herwini Yusuf. Dalam dunia pekerjaan beliau pernah menjadi penasehat menteri agama Alamsyah Ratu Perwira negara, dan ketua dewan fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI), bahkan masih banyak posisi-posisi yang telah beliau tempati dan isi dengan ilmu yang telah diperolehnya semasa hidupnya. Beliau wafat pada 7 November 2001, semoga allah SWT merahmati dan meridhoi beliau.. Amiin. (zar/ diterjemahkan oleh Amirah).
