Khazanah » Sosok:
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
di unggah oleh
iyank4
: 3 bulan, 3 minggu yang lalu
Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal sebagai pulau Seribu Masjid bukan hanya elok pantainya, tapi juga memiliki tokoh ulama besar yang memiliki andil luar biasa terhadap sejarah pendidikan bangsa Indonesia. Dengan lembaga pendidikan Nahdaltul Wathan (NW), Tuanku Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menebar ilmunya bukan hanya bagi masyarakat Sasak di Lombok, tapi juga ke seluruh Nusantara.
Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dilahirkan di Bermi Pancor Lombok Timur Rabu 17 Rabi’ul Awwal 1326 H atau 1904 M. Sejak usia 5 tahun dididik oleh ayahnya sendiri, yaitu TGH. Abdul Madjid dalam mengaji dan ilmu agama lainnya. Pada usia 9 tahun masuk Sekolah Rakyat (SR) 4 tahun dan tamat pada tahun 1919.
Setelah tamat SR, Muhammad Zainuddin kecil sempat memperoleh ilmu pengetahuan agama dari TGH. Syarafudin dan TGH. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Ketiga guru agama ini mengajarkan ilmu agama dengan sistem halaqah, yaitu para santri duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan guru membaca kitab yang sedang dipelajari, kemudian masing-masing murid secara bergantian membaca.
Pada saat berusia 15 tahun, yaitu menjelang musim haji tahun 1341 H, Muhammad Zainuddin remaja berangkat menuntut ilmu ke Makkah diantar kedua orang tuanya, tiga orang, kemenakan dan beberapa orang keluarga. Turut pula TGH. Syarafudin. Setibanya di tanah suci Makkah TGH. Abdul Madjid langsung mencari rumah kontrakan di Suqullail.
Oleh ayahnya, Muhammad Zainuddin diserahkan belajar kepada Syaikh Marzuki, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjidil Haram. Selain itu juga sempat belajar ilmu sastra dari ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin Al-Kutbi dan pada saat itu berkenalan dengan Sayyid Muhsin Al-Palembani, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang kemudian menjadi guru beliau di Madrasah Shaulatiyah.
Madrasah Al-Shaulatiyah adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Saudi Arabia. Madrasah ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia. TGKH. Muhammad Zainuddin masuk Madrasah Al-Shaulatiyah pada tahun 1345 H (1927 M) yang waktu dipimpin (Mudir/Direktur), Syaikh Salim Rahmatullah yang merupakan cucu pendiri Madrasah Al-Shaulatiyah. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap thullab yang masuk di Madrasah Al-Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang cocok bagi thullab. Demikian pula dengan TGKH. Muhammad Zainuddin, juga ditest terlebih dahulu. Secara kebetulan ditest langsung oleh Direktur Al-Shaulatiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath.
Hasil test menentukan di kelas 3. mendengar keputusan itu, TGKH. Muhammad Zainuddin minta diperkenankan masuk kelas 2 dengan alasan ingin mendalam mata pelajaran Nahwu-Sharaf. Semula Syaikh Hasan bersikeras agar TGKH. Muhammad Zainuddin masuk kelas 3, tetapi pada akhirnya melunak dan mengabulkan permohonan untuk masuk kelas 2 dan sejak itu TGKH. Muhammad Zainuddin secara resmi masuk Madrasah Al-Shaulatiyah mulai dari kelas 2. prestasi akademiknya sangat istimewa. Dan berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9.
Teman sekelas TGKH. Muhammad Zainuddin bernama Syaikh Zakaria Abdullah, mengakui kejeniusannya dan mengatakan: ” Syaikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kejeniusannya yang tinggi dan luar biasa dan saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, dan kawan sekelasku dan saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi pada waktu saya bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah Al-Shaulatiyah Makkah.” Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studi di Madrasah Al-Shaulatiyah pada tahun 1351 H (1933 M) dengan predikat istimewa (mumtaz).
Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah Al-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Makkah, yaitu Al-Khathath Al-Sayikh Dawud Al-Rumani atas usul dari direktur Madrasah Al-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibunda yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah Al-Shaulatiyah menghembuskan nafas terakhir di Makkah.
TGKH. Muhammad Zainuddin menerima ijazah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H. Setelah tamat dari Madrasah Al-Shaulatiyah, tidak langsung pulang ke Lombok, tetapi bermukim lagi di Makkah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Haji Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu dimanfaatkan untuk belajar antara lain belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah Al-Yamani. Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh selama di Tanah Suci Makkah adalah 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Ini berarti selama di Makkah sempat mengerjakan ibadah Haji sebanyak 13 kali.
Setelah selesai menuntut ilmu di Makkah dan kembali ke tanah air kelahiran Pancor Lombok Timur, TGKH. Muhammad Zainuddin langsung melakukan safari dakwah ke berbagai tempat di pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya Tuan Guru Bajang. Semula, pada tahun 1934 mendirikan pesantren Al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama dan selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H atau 22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941.
Begitu para santri menamatkan NWDI, mereka kembali ke tempat asalnya masing-masing dan mendirikan cabang-cabang NWDI sejak tahun 1940/1941 hingga 1945 di Lombok Timur terdapat 9 buah cabang NWDI. Madrasah ini selanjutnya terus mengalami kemajuan dan perkembangan sehingga oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H atau 22 Agustus 1937 dipandang sebagai kebangkitan syi’ar Islam yang berarti pula sebagai kebangkitan masyarakat Sasak.
Kemudian pada tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1362 H atau bertepatan dengan 21 April 1943, didirikan sebuah madrasah khusus untuk kaum perempuan yang diberi nama Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Seperti halnya alumni NWDI, para alumni NBDI juga mampu mendorong berdirinya cabang-cabang madrasah NBDI. Dalam kurun waktu 1943-1951 dilakukan pengembangan dalam bidang kurikulum, jenjang dan jenis madrasah sesuai dengan perkembangan zaman. Pada tahun 1952 dibuka Sekolah Menengah Islam (SMI), Mu’alllimin dan Mu’allimat (4 tahun), Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP). Selanjutnya, pada tahun 1955-1956 dibuka Madrasah Muballighin/Muballighat. Kemudian pada tahun 1957 dibuka Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat (6 tahun) dan pada tahun 1956 diresmikan berdirinya Madrasah Menengah Atas (MMA), Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Pendidikan Guru Agama Lengkap (PGAL).
Pada tahun 1960-an TGKH. Muhammad Zainuddin memikirkan perlunya pengembangan pendidikan tinggi dengan didirikannya Akademi Pedagogik NW dan pada tahun 1965 dibuka Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits untuk pria. Khusus untuk kaum perempuan dibuka Ma’had lil Banat pada tahun 1974. selain pendidikan tinggi, pada tahun 1974 mulai dibuka pendidikan umum seperti SMP, SMA, dan SPG. Pada tahun 1977 didirikan Universitas Hamzanwadi yang merupakan singkatan dari Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah. Sebelumnya telah disebutkan bahwa semua santri (murid) setelah menamatkan NWDI/NBDI pulang ke tempat asalnya masing-masing untuk mendirikan madrasah cabang NW. Cabng NW di Lombok Timur mulai terbentuk dalam kurun waktu 1945-1951. sejak awal tahun 1953 terbentuk cabang-cabang NW di seluruh Lombok. Setelah tahun 1960 cabang organisasi NW berkembang di seantero wilayah Indonesia dengan terbentuknya pengurus NW. Sampai tahun 1994 saja jumlah cabangnya mencapai 675, mungkin hingga saat ini sudah mencapai seribu cabang lebih. (zar)
Sumber: Risalah Nahdlatul Ulama No.9/Thn II/1429 H