MediaHaji.com

Umrah » Perjalanan Umrah:

Tour ke Madain Sholeh

di unggah oleh redaksi: 1 tahun, 7 bulan yang lalu


Tour ke Madain Sholeh

1. Menyibak Sejarah Kaum Nabi Shaleh AS. Ziarah ditanah Arab memang sangat menakjubkan, selain bisa merasakan getaran sejarah, kita juga dapat mengambil pelajaran di setiap pojok tempat yang kita singgahi. Setelah Medan Magnet, Thaif dan tempat lainnya di Makkah dan Madinah, kini kita akan menikmati perjalanan yang lebih membuat kepercayaan akan risalah Nubuwah yang semakin terpatri di sanubari, Kita juga bisa lebih mendalami kandungan al-Qur'an mengenai sejarah para Nabi Allah SWT. dalam menjalankan risalah-Nya.

Pernahkan Anda mendengan sebuah kota bernama 'al-Hajar'(?) sebuah kota yang juga dikenal dengan sebutal 'al-Hijir', ini adalah salah satu situs arkeologi yang terbaik di Saudi Arabia.

Kota ini terletak di tengah Kotamadya al-Ula (lebih dikenal dengan kota Didan)yang masih termasuk pada wilayah Madinah-Munawwarah. Semasa perjuangan Rasulullah SAW. kota ini adalah rute perdagangan utama sekaligus menjadi fasilitator antara saudagar dari India dengan para saudagar dari semenanjung Arab bagian selatan. Dan juga antara saudagar dari negeri Syam, Mesir, Irak dan semenanjung Arab bagian utara.

Kota ini sangat kaya dengan potensi pertanian dan pariwisata. Namun kini kegiatan penduduknya lebih banyak bergerak di bidang perdagangan, terutama jual beli bahan logistic sehari-hari. Madain Shaleh sendiri berada 400 km. dari arah utara Madinah Munawarah. Sejarah mencatat bahwa disinilah tempat tinggal kaum Nabi Shaleh, atau dikenal dengan kaum Tsamud. Pintar dalam masalah ukiran atau mahat-memahat, maka jangan heran ketika Anda memasuki area ini, Anda akan takjub menyaksikan gunung-gunung batu yang dipahat menjadi tempat tinggal mereka.

Dengan berbagai bentuk yang mengagumkan. Bahkan al-Qur'an telah menjelaskan bahwa mereka (kaum Tsamud) menjadikan gunung-gunung sebagai rumah mereka (QS. 26 : 149). Di kota ini, kita akan menyaksikan 130 tempat tinggal dan kuburan kuno yang terbentang seluas 13 km. meski terlihat sangat gersang, namun sesungguhnya kota ini sangat subur oleh perkebunan dan sektor pertaniannya.

Sesampainya disana, Anda juga akan menikmati hasil andalan pertaniannya berupa kurma, jeruk, semanggi, gandum, barley, semangka dan melon. Sebuah anugerah yang terpancar di tengah bumi yang gersang. Meski telah berumur ribuan tahun, tapi anehnya tempat tinggal dan kuburan kuno semasa kaum Tsamud itu masih terlihat bagus. Tak jarang pemandangna ini begitu menarik perhatian wisatawan mancanegara. Hampir disetiap gerbang menuju rumah-rumah itu terdapat dekorasi yang sangat indah dan selalu ada pahatan burung rajawali dan ular-ular melingkar.

Untuk memudahkan peziarah, guna mencapai rumah dan kuburan-kuburan kuno itu, kini telah dibangun anak-anak tangga. Dipastikan keimanan kita akan firman Allah, dan risalah yang dibawa para Nabi akan lebih meningkat setelah menyaksikan fenomena Madain Shaleh ini. Bagaimana tidak, bukti-bukti nyata dari sejarah kitab suci sudah sangat jelas berada di pelupuk mata kita.

2. Puing-Puing Kehancuran Kaum Tsamud Setelah menyaksikan tulisan sebelumnya mengenai tapak-tilas kaum Nabi Shaleh yang berada di kota Madain Shaleh, sebelah utara kota Madinah-Munawarrah. Kini kita beranjak menyaksikan puing sejarah kenacuran kaum Tsamud karena durhaka pada Allah dan Nabi-Nya. Kota ini (Madain Shaleh) sebelum ditemapati Nabi Hud dan kaum 'Ad yang dibinasakan oleh angin topan yang begitu kencang. Sehingga banyak manusia yang ingkar pada risalah Nabi Hud bergelimpangan, rumah beserta bangunan-bangunan tinggi runtuh berserakan.

Hewan-hewan terbang dilumat angin. Dan seketika bumi yang dipijak menjadi gersang dan tandus. Diriwayatkan bahwa negeri itu telah kosong dari penduduknya, karena Nabi Hud beserta pengikut setianya telah pindah ke Makkah. Akhirnya Allah SWT. mengganti lembaran sejarah dengan diutusnya Nabi Shaleh kepada bangsa (kaum) Tsamud, yang terkenal dengan kepandaian memahat bangunan kokoh dari gunung-gunung batu. Mereka tinggal bersama utusan Allah di sebuah lembah yang bernama 'al-Hajar', yang kini dikenal dengan Madain Shaleh.

"Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar disebuah lembah" (QS. 89 : 9). Setelah negeri ini dihuni oleh kaum Tsamud, bumi yan g asalnya kering menjadi sangat subur. Kebun-kebun dengan mata air mengalir deras menghidupkan kembali tanah gersang lyang tertimbun pasca taufan dahsyat. Nabi Shaleh mengajak kaumnya untuk bertakwa dan mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan pada mereka. Karena kehidupan kaum Tsamud sama persis dengan kehidupan kaum sebelumnya (kaum 'Ad).

Mereka selalu membuat kerusakan dan kesombongan. Mengagumkan harta kekayaan yang mereka miliki, mereka mengira harta yang mereka miliki itu akan kekal dan selamanya menjadi haknya. Mengikuti hawa nafsu angkara murka, sehingga batu-batu yang mereka pahat sekalipun menjadi sesembahan dan pemujaan mereka. Berhala yang mereka sembah adalah ; Wad, Jad, Syams, Manaf, Manaat, Al-Latta dan sebagainya. Lalu Allah mengutus Nabi Shaleh untuk bertakwa kepada-Nya dan mengikuti nasehat-nasehat beliau untuk mensyukuri atas limpahan nikmat dari Allah SWT. (QS. 26:141-152), (QS. 7:74).

Namun mereka mendustakan dan meminta bukti mu'jizat pada Nabi Shaleh sebagai tanda seorang utusan Allah. Seketika itu, Allah menunjukkan ke - Maha besaran - Nya dengan memberikan mu'jizat pada Nabi Shaleh berupa seekor unta betina yang keluar dari celah gunung batu. Dari tetek unta itu keluar air susu yang terus-menerus keluar sehingga semua bangsa Tsamud dapat menikmatinya setiap saat. (QS. 26:153-156), (QS. 54:27-28). Karena disadari perasaan dengki dan menolak seruan Nabi Shaleh, kaum Tsamud masih mendustakan mu'jizat Nabi Shaleh berupa seekor unta betina yang telah menanggulangi masa-masa kemarau di negeri itu dengan air susunya yang dapat diperah setiap saat.

Pada akhirnya mereka mendustakan janji Nabi Allah dengan menyembelih unta itu. Seraya berkata : "Hai Shaleh...!!! Datangkan siksa yang telah engkau janjikan itu, seandainya engkau benar-benar utusan Allah, buktinya unta mu'jizat itu telah kami bunuh". Nabi Shaleh berkata ; "Kalian benar-benar telah berbuat dosa, sekarang kalian boleh bersenang-senang setelah tiga hari janji Allah akan tiba !". Sebenarnya tempo tiga hari yang dikatakan Nabi Shaleh AS. adalah sebuah harapan semoga kaumnya sadar dan memohon ampun pada Allah dan Nabi-Nya. Akan tetapi mereka menganggap itu adalah sebagai tanda kelemahan Nabi Shaleh. Maka tepat tiga hari setelah terbunuhnya unta Nabi Shaleh AS. adzab dan siksaan Allah turun menghantam kaum Tsamud. Adzab itu berupa suara petir yang sangat dahsyat. Gemuruh petir yang sangat kuat itu dapat menyebabkan suara yang mengguntur mampu menghancurkan rumah dan bangunan-bangunan tinggi tempat tinggal mereka, bukti-bukti yang dipergunakan sebagai benteng, harta kekayaan mereka porak-poranda disambar petir dan tiupan angin.

Hanya Nabi Shaleh dan pengikutnya yang beriman bisa terselamatkan dari adzab tersebut. Firman Allah, "Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa ". (QS. 69:5). Yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu ialah petir yang sangat keras, yang menyebabkan suara mengguntur dan dapat menghancurkan. Firman Allah, "Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka". (QS. 7-78). Petir adalah tenaga listrik lyang terjadi karena pertemuan partikel listrik (+) yang disebut 'proton' dengan partikel listrik (-) yang disebut 'electron' dekat dengan bumi, maka akan menimbulkan gaya listrik yang dekat dengan partikel listrik (+) yang ada di bumi. Kalau pertemuan proton dengan electron itu pada pohon-pohonan atau manusia, maka benda itu akan terbakar. Apabila mengenai batu, maka batu tersebut akan pecah. Demikian pula apabila mengenai gedung ia akan hancur.

Kehancuran benda yang terkena sambaran petir itu tergantung kepada besarnya tenaga listrik yang ditimbulkan oleh proton dan elektron tersebut. Al-Qur'an menyebutkan bahwa 'As-Syaiqah' kadang-kadang diibaratkan dengan ar-Rajfah, at-Thaghiyah dan as-Shaidah. "Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang dzalim..." (QS. 11:67).

Demikianlah puing-puing kenancuran kaum Tsamud yang durhaka pada Allah dan Nabi-Nya, yang kini dapat kita saksikan langsung dengan mata kepala kita sendiri di kota Madain Shaleh sebagai pelajaran yang bermakna bagi kecintaan kita pada risalah Nabi dan Rasul Allah SWT. Bahkan pada perang Tabuk pun Rasulullah pernah mendatangi tempat itu dan melarang sahabat-sahabatnya meminum air dari sumur, yang dikenal juga dengan sebutan 'Sumur Tsamud'. Catatan: Yang boleh ke Madain Shaleh, mereka yang bervisa ziarah, diplomatik, dinas dan TKI/TKW. sedangkan visa umroh dan haji tidak diperkenankan)