MediaHaji.com

Umrah » Tips Umrah:

Tour ke Thaif

di unggah oleh redaksi: 1 tahun, 7 bulan yang lalu


Tour ke Thaif

Thaif adalah sebuah kota yang terletak di lembah Pegunungan Asir yang bergelar dengan 'Qoryatul Muluk (desa para raja). Disebut dengan demikian karena di kota sejuk ini bertebaran istana peristirahatan musim panas para raja dan para konglomerat Saudi. Thaif terkenal karena hasil buminya, selain sayur-sayuran dan buah-buahan, yang paling terkenal adalah 'bunga'. Bahan baku menyak wangi khas Saudi semacam ambar, misik dan yasmine juga banyak dihasilkan di kawasan yang subur ini, dengan mutu yang tidak kalah dengan produk import dari manca negara.

Thaif adalah salah satu daerah pertanian yang terpenting di Saudi Arabia, yang terletak sekitar 100 km., sebelah tenggara kota Makkah. Dan merupakan daerah dataran tinggi dengan ketinggian sampai 1500 m. dari permukaan laut. Kota Thaif juga dikenal sebagai daerah wisata dan sedang mempersiapkan diri menjadi tempat pendaratan jamaah haji, disamping Jeddah dan Madinah. Untuk itu berbagai prasarana dan sarana sedang giat-giatnya di bangun. Thaif selain terkenal 'supplier' sayur-mayur dan buah-buahan adalah juga menghasilkan benih dan bibit dari berbagai jenis bunga, madu dan kambing.

Thaif pula mempunyai suhu udara yang beragam, pada musim panas suasana temperatur udara tetap dalam keadaan dingin, pada waktu musim dingin temperatur udara dalam keadaan sejuk sekali sehingga memerlukan seseorang untuk berpakaian jaket tebal. Thaif diberkahi dengan kesuburan tanah meski komposisi bebatuannya lebih banyak. Buah dan sayur yang terdapat di pasaran tradisionalnya saja cantik dan segar sekali, terbukti delima/rumman yang terkenal di sana sangat nikmat kita rasakan. Beberapa tempat hiburan/malahi di daerah Thaif, pertama kita tentu akan memasuki daerah al-Hada, yang lokasi pegunungannya sangat curam, jalannya berkelok-kelok yang tak memungkinkan bus besar memasukinya, disekelilingnya dihiasi berbagai permainan laksana dunia fantasi dan taman impian yang merupakan impian bagi keluarga arab pada hari kamis dan jum'at dan hari libur lainnya untuk membawa keluarga berlibur, dimana waktu siang hari banyak sekali kita temukan monyet-monyet berpose-ria dengan para pengunjung.

Di pinggir jalan hampir selalu kita temukan 'sky-lift' atau kereta gantung atau 'gondola' sembari melihat keindahan pemandangan dari ketinggian, kalau di Jakarta sky-lift berjalan lurus tidak naik-turun sedangkan disana turun curam, apalagi dibawahnya batu-batu besar dan tidak kelhatan tanah kosong, bikin suasana sekelilingnya menghijau.

Tour yang kedua biasanya kita akan dibawa ke jantung kota Thaif, ditengah kota inilah beberapa mesjid seperti Mesjid Jami' Khodimul Haramain Syarifain, Mesjid Addas, Mesjid Ku' (ku'un), Mesjid tempat Rasulullah dilontar batu oleh penduduk Thaif dan tentu kita akan singgahi Mesjid Jami' Abdullah bin Abbas untuk sholat dhuhur dan ashar di jama' taqdim qosor, dilokasi belakang mesjid itulah disamping kanan lokasi sholat perempuan, sejarah mengatakan makam Ibnu Abbas di kebumikan wallahua'lam, yang jelas Ibnu Jubair menceritakan bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif.

Kita kenal sahabat Ibnu Abbas salah satu sahabat yang berpengetahuan luas dan banyak hadits shahih yang diriwayatkan melalui beliau, serta beliau juga menurunkan seluruh khalifah dari Bani Abbasiyah. Ibnu Abbas pernah didekap oleh Rasulullah, kemudian Rasulullah berkata "Ya Allah... ajarkan kepadanya hikmah", yang dimaksud hikmah adalah pemahaman terhadap al-qur'an. Ibnu Abbas pernah melihat Malaikat Jibril dalam dua kesempatan.

Beliau juga Ibnu Abbas pernah di doakan oleh Rasulullah dua kali yakni saat didekap Rasulullah dan saat beliau mengambil air wudhu', Rasulullah berdoa "Ya Allah fahamkan (faqihkan) ia". (HR. Muslim). Ibnu Abbas wafat pada tahun ke 78 H. dalam usia 75 tahun, diriwayat yang lain 81 tahun. Sekitar 20 km. dari Thaif para penziarah tentu akan dibawa ke pemandangan bukit yang menghijau daerah as-Safa (bukan as-Sofa).

Perbukitan yang bebatuan nan menghijau dihiasi berbagai permainan malahi, ranumnya buah-buahan dan sayur-sayuran, kera-kera pun bersorak-sorai menemani para pengunjung yang sedang membakar sate, villa-villa milik para amir dan para konglomerat Saudi menghiasi suasana didaerah as-Safa ini. Sore hari lalu para pengunjung biasanya dibawa ke kebun-binatang kembali ke Thaif, hanya dengan 5 real kita bisa berfose-ria dengan binatang-binatang. Menunggang kuda dalam berpacu sesama kawan, untu-unta berhias diri membawa para tourist yang ingin melihat sekeliling suasana Thaif sore hari.

Menjelang senja tiba para pengunjung biasanya dibawa ke pasar buah-buahan dan sayur-mayur sekitar se-jam, berbelanja hasil bumi asli Thaif nan subur. Lalu terakhir keluar dari kota Thaif mampir sejenak di Meqat Qornul-Manazil (Sail Kabir) yang merupakan meqat bagi penduduk Thaif dan orang-orang yang datang dari arah Thaif seperti Najed (Riyadh), untuk berbenah dini, sholat dan mengambil meqat. Thaif tak lepas dari sejarah pada zaman Rasulullah pada pertempuran Hunain dan Pertempuran Thaif. Pertempuran Hunain adalah pertempuran antara pihak Rasulullah dan para sahabatnya dengan pihak lawan kaum badui dari suku Hawazin dan Tsaqif pada tahun 630 M. atau 8 H., disebuah pada salah satu jalan dari Makkah ke Thaif.

Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan telak kaum Muslimin, yang juga berhasil memperoleh rampasan perang yang banyak. Pertempuran Hunain adalah salah satu pertempuran yang disebut dalam ayat suci al-Qur'an surat at-Taubah ayat 25 - 26. Suku Hawazin dan para sekutunya dari suku Tsaqif mulai menyiapkan pasukan mereka ketika mengetahui bahwa Rasulullah dan tentaranya berangkat dari Madinah menuju Makkah, yang ketika itu masih dikuasai kaum kafir Quraisy. Persekutuan kaum Badui dari suku Hawazin dan Tsaqif berniat akan menyerang pasukan Rasulullah ketika sedang mengepung Makkah.

Namun penaklukan Makkah berjalan cepat dan damai. Rasulullah pun mengetahui maksud suku Hawazin dan Tsaqif, dan memerintahkan pasukan beliau bergerak menuju Hawazin dengan kekuatan 12.000 orang, terdiri 10.000 muslim yang turut serta dalam penaklukan Makkah, ditambah 2.000 orang quraisy Makkah yang baru masuk Islam. Hal ini terjadi sekitar dua minggu setelah penaklukan Makkah, atau empat minggu setelah Rasulullah meninggalkan Madinah.

Pasukan kaum Badui terdiri dari suku Hawazin, Tsaqif, bani Hilal, bani Nashar dan bani Jasyam. Saat pasukan muslim bergerak menuju daerah Hawazin, pemimpin kaum badui Malik bin Auf al-Nasri menyergap mereka dilembah sempit yang bernama Hunain. Kaum Badui menyerang dari ketinggian, menggunakan batu dan panah, mengejutkan kaum muslimin dan menyulitkan organisasi serangan kaum muslimin. Pasukan muslim mulai mundur dalam kekacauan, dan tampaknya akan menderita kekalahan. Pemimpin quraisy yang ketika itu baru masuk Islam, mengejek dan berkata "Kuam Muslimin akan lari hingga ke pantai".

Pada saat kritis ini, Ali bin Abi Thalib dibantu oleh paman Rasulullah Sayyidina Abbas mengumpulkan kembali pasukan yang melarikan diri, dan organisasi kaum muslimin mulai terbentuk kembali. Hal ini juga dibantu dengan sempitnya medan pertempuran dari kaum badui menantang pertarungan satu lawan satu. Ali menerima tantangan ini dan berhasil mengalahkannya. Lalu Rasulullah memerintahkan serangan umum, dan kaum badui mulai melarikan diri dalam dua kelompok.

Kelompok pertama nantinya akan kembali berperang melawan kaum muslim dalam pertempuran Autas, dan sisanya mengungsi ke Thaif dan nantinya akan dikepung oleh kaum muslimin. Pasukan Muslimin berhasil menangkap keluarga dan harta benda dari suku Hawazin yang dibawa oleh Malik bin Aus ke medan pertempuran. Rampasan perang ini termasuk 6.000 tawanan, 24.000 unta, 40.000 kambing serta 4.000 waqih perak ( 1 waqih = 213 gram emas).

Pertempuran ini mendemonstrasikan keahlian Ali bin Abi Thalib dalam mengorganisir pasukan dalam keadaan terjepit. Pertempuran ini juga menunjukkan kemurahan hati kaum muslimin, yang memperlakukan tawanan dengan baik dan membebaskan 600 diantaranya secara cuma-cuma. Sisa tawanan ditahan dalam rumah-rumah khusus hingga berakhirnya pengepungan Thaif. Sedangkan Pengepungan Thaif terjadi pada tahun 630 M., saat kaum muslimin pimpinan Rasulullah mengasingkan dan mengepung kota Thaif, yang dikuasai oleh suku Hawazin dan Tsaqif, yang dikalahkan dalam pertempuran Hunain.

Penduduk Thaif berhasil bertahan dari pengepungan ini, dan baru masuk Islam, menyatakan kesetiaannya pada Rasulullah setelah 'Ekspedisi Tabuk (630 M). salah seorang kepala suku Thaif Urwah bin Mas'ud tidak ada pada saat pengepungan ini, dan nantinya ialah yang memimpin kaumnya masuk Islam. Sedikit sekali yang diketahui mengenai jalannya pengepungan ini, namun dalam pengepungan ini diketahui bahwa Abu Sofyan yang bertempur di pihak muslim, kehilangan salah satu matanya. Ketika Rasulullah bertanya kepadanya "Yang manakah yang lebih kau inginkan, sebuah mata di syurga atau aku berdoa kepada Allah agar matamu dikembalikan sekarang?". Abu Sofyan menjawab, ia lebih memilih sebuah mata di Syurga.

Nantinya ia kehilangan matanya yang lain pada pertempuran Yarmuk (636 M). Sekalipun pengepungan ini berakhir dengan kegagalan, tak beberapa setelah pengepungan ini para penduduk Thaif (Bani Tsaqif) akhirnya masuk Islam, tepatnya setelah eskpedisi Tabuk. Beberapa golongan yang berhasil melarikan diri dari perang Tsaqif menuju Thaif, dimana mereka membangun benteng, menutup kota Thaif dari semua penjuru, mereka kumpulkan segala macam keperluan dan bahan didalamnya yang cukup untuk waktu satu tahu, lalu bersiap untuk berperang lagi.

Rasulullah bergerak menuju Thaif, berhenti dekat Thaif dengan pasukan beliau. Pasukan Rasulullah mencoba memasuki kota Thaif tetapi tidak sanggup karena langsung mendapat serangan panah yang hebat dari penduduk Tsaqif. Mereka memang ahli berpanah dan berani. Rasulullah memindahkan kedudukan beliau ke tempat lain, langsung mengepung Thaif selama 20 malam atau lebih dari serangan yang hebat. Anak panah kedua pasukan saling berdengung di udara menuju sasaran masing-masing. Buat pertama Rasulullah menggunakan 'manjanik' (alat untuk melemparkan batu atau benda keras dalam perang). Pertempuran semakin menghebat sehingga banyak diantara kaum muslimin terbunuh karena anak panah.