MediaHaji.com

Umrah » Tips Umrah:

Tour Wisata Ruhani Badar

di unggah oleh redaksi: 1 tahun, 7 bulan yang lalu


Tour Wisata Ruhani Badar

Sejarah Perang Badar Dengan kepergian Nabi SAW. ke Medinah, permusuhan kaum kafir Qurasiy kepada ummat Islam masih belum reda. Penyiksaan dan gangguan mereka kepada kaum muslimin yang masih berada di Makkah dan tidak dapat keluar dari kota itu semakin menjadi. Di lain pihak harta benda yang ditinggalkan oleh mereka yang telah berhijarah ke Medinah dalam perjalanan perniagaan menuju ke Syam atau dari Syam menuju Makkah.

Tahun ke - 2 Hijriyah, Rasulullah SAW bersama 313 sahabatnya bergerark menuju Badar untuk mencegah kafilah Quraisy yang membawa harta berlimpah hasil dari perniagaan di Syam. Setelah mendengar berita itu, Abu Sofyan yang memimpin kafilah ini, mengirimkan utusannya ke Makkah untuk meminta bantuan tentara Quraisy dalam menghadapi ancaman ini.

Bagi Qurasiy, pencegatan kafilahnya oleh kaum muslimin tidak hanya berarti kerugian harta, tetapi juga kehormatan suku besar di Makkah ini. Untuk itu Abu Jahal yang merupakan salah satu bangsawan terkemuka Quraisy bersama seribu orang lengkap dengan peralatan perang meninggalkan kota Makkah dan bergerak menuju Badar. Sementara kafilah pimpinan Abu Sofyan dengan melintasi jalan alternatif berhasil lolos dari serangan kaum muslimin. Abu Sofyan mengirimkan kurirnya untuk meminta Abu Jahal kembali ke Makkah karena bahaya telah berlalu.

Namun pesan itu ditolaknya. Abu Jahal bersikeras untuk berhadapan dan terlibat perang dengan pasukan Madinah. Ia berfikir, dengan demikian ummat Islam akan jera atau bahkan terhabisi. Di Badar pasukan muslimin yang dipimpiun langsung oleh Rasulullah SAW. telah bersiap siaga. Pasukan kecil berjumlah 313 orang dan peralatan yang ala kadarnya siap menghadapi seribu orang di barusan quraisy yang bersenjata lengkap. Namun keimanan yang dimiliki oleh ummat Islam lah yang menjadi mesin pendorong mereka untuk tegar dan siap menanti kematian di jalan Allah yang balasannya adalah syurga.

Tanggal 17 Maret 624 M/17 Romadlon 2 H., perang di Badar berkecamuk setelah diawali dengan duel satu lawan satu antara tiga jawara dari dua barisan. Satu demi satu korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Darah bersimnbah disana-sini. Tak lama berita tersebar bahwa Abu Jalah yang oleh Rasulullah disebut sebagai Fir'un di tengah ummat ini, tewas di tangan pasukan kaum muslimin. Terbunuhnya Abu Jahal dan beberapa pemuka quraisy di medan perang Badar menjadi pukulan berat bagi pasukan Makkah yang akhirnya memiliki untuk melarikan diri.

Dalam Perang Badar, pasukan qurasiy menderita kerugian 70 tewas dan tujuh lainnya tertawan. Sementara barang rampasan perang yang ditinggalkan tidak sedikit. Diperkirakan sekitar 150 unta, sepuluh kuda, sejumlah kulit dan kain, serta peralatan perang ditinggalkan oleh pasukan Makkah yang lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Dampak Dari Perang Badar Bagi kaum muslimin awal pertempouran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Makkah. Makkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum muslimin juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Rasulullah sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai.

Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum muslimin di Madinah, dengan demikian ekspansi agama Islam pun dimulai. Kekalahan quraisy dalam pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam pertempuran Uhud. Pertempuran Badar sangatlah berpengaruh atas munculnya dua orang tokoh yang akan menentukan arah masa depan Jazirah Arabia di abad selanjutnya. Tokoh pertama adalah Rasulullah, yang dalam semalam statusnya berubah dari seorang buangan dari Makkah, menjadi salah seorang pemimpin utama.

Kemenangan di Badar juga membuat Rasulullah dapat memperkuat posisinya sendiri di Madinah. Segera setelah itu, Beliau mengeluarkan Bani Qainuqa' dari Madinah, yaitu salah satu suku Yahudi yang sering mengancam kedudukan politiknya. Pada masa yang sama, Abdullah bin Ubay Pemimpin kaum munafiqin Bani Khazraj dan penentang Rasulullah, menemukan bahwa posisi politiknya di Madinah benar-benar melemah. Selanjutnya, ia hanya mampu memberikan penentangan dengan pengaruh terbatas kepada Rasulullah. Tokoh lain yang mendapat keberuntungan besar atas terjadinya Pertempuran Badar adalah Abu Sofyan.

Kematian Abu Jahal, serta banyak bangsawan quraisy lainnya, telah memberikan Abu Sofyan peluang yang hampir seperti direncanakan untuk menjadi pemimpin bagi kaum quraisy. Sebagai akibatnya, saat pasukan Rasulullah bergerak memasuki Makkah enam tahun kemudian, Abu Sofyan menjadi tokoh yang membatu merundingkan penyerahannya secara damai. Abu Sofyan pada akhirnya menjadi pejabat berpangkat tinggi dalam Kekhalifahan Islam, dan anaknya Mu'awiyyah kemudian melanjutkannya dengan mendirikan Kekhalifahan Umayyah.